Selasa, 03 Januari 2012

PENILAIAN ALTERNATIF (ASSESMENT ALTERNATIVE)

BAB I
PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang
Indikator utama yang digunakan untuk menilai kualitas pembelajaran dan kelulusan siswa dari suatu lembaga pendidikan, sering didasarkan pada hasil belajar siswa yang tertera pada nilai tes hasil belajar (THB) atau Nilai Ujian Nasional (UN). Dampak dari pandangan tersebut yang diperkuat dengan bentuk tes yang digunakan, mendorong guru berlomba-lomba mentrasfer materi pelajaran sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan anak didik dalam mengikuti THB atau UN. Akibatnya bahwa yang terjadi kemudian adalah anak didik dipaksa untuk melahap informasi yang disampaikan tanpa diberi peluang sedikit pun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Dalam hal ini anak didik hanya dituntut untuk belajar dengan cara menghapal semua informasi yang telah disampaikan oleh guru.
Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis obyektif dan subyektif sebagai alat ukurnya. Hal ini didukung oleh penelitian Nuryani, dkk (dalam Mulyana E.H, 2005) yang mengemukakan bahwa pengujian yang dilakukan selama ini baru mengukur pengusaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah. Keadaan semacam ini merupakan salah satu penyebab guru tidak melakukan kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks. Keadaan faktual ini mendorong siswa untuk menghapal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar. Padahal untuk anak didik yang harus diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis anak terhadap suatu masalah (Mahar Marjono dalam Mulyana E.H, 2005).
Proses pembelajaran Sains menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan ranah kognitif, afektif, serta psikomotorik terbentuk pada diri siswa, maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan percobaan, peragaan maupun pengamatan (Mulyana E.H, 2005).
Fenomena di atas menunjukkan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru. Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran Sains SD pada kurikulum 2004, dapat dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep Sains, pengembangan keterampilan proses/kinerja siswa, dan penanaman sikap ilmiah. Oleh karennya agar informasi tentang hasil belajar siswa dapat mengungkap secara menyeluruh, maka perlu melakukan pengukuran terhadap ketiga aspek tersebut di atas. Dengan demikian sasaran dari penilaian hasil belajar meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan melihat masalah penilaian yang ada, maka dalam makalah ini akan mengkaji lebih lanjut tentang test yang tidak hanya merupakan tes subyektif atau obyektif saja.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apakah yang dimaksud dengan penilaian alternatif?
  2. Apa sajakah macam-macam bentuk penilaian dalam penilaian alternatif berdasarkan alat penilaian?

  1. Tujuan Penulisan
  1. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan penilaian alternatif.
  2. Dapat mengetahui macam-macam bentuk penilaian dalam penilaian alternatif berdasarkan alat penilaian.





  1. Pentingnya Makalah
Penulis mengharapkan makalah yang disusun ini bisa memberikan tambahan pengetahuan dan perubahan tentang sistem penilaian yang telah berlangsung di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia khususnya dalam pembelajaran sains.




























BAB II
ISI MAKALAH


Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa. Sedangkan menurut Nana Sudjana dalam Mulyana E.H (2005), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu konteks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu "Judgment", namun penilaian yang dilakukan sekolah-sekolah yang ada di Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan sehari-hari di sekolah dan penilaian tidak banyak mengenalkan peserta didik dengan kehidupan nyata atau lingkungan sekitar. Selama ini yang dilakukan oleh pendidik di Indonesia yaitu penilaian paper and pencil test (penilaian konvensional). Oleh sebab itu, maka diperlukan penilaian alternatif, hal ini didukung oleh teori yang menyatakan bahwa penilaian alternatif adalah penilaian yang memanfaatkan pendekatan non tradisional untuk mengases kinerja atau hasil belajar peserta didik, Ada kalanya asesmen alternatif juga dapat disebut dengan asesmen autentik atau asesmen kinerja (Muhiklaten, 2010).
Macam-macam bentuk penilaian dalam asesmen alternative berdasarkan alat penilaian Menurut Mertler dalam Muhiklaten (2010), bentuk penilaian berdasarkan alat penilaian dalam asesmen alternative berupa asesmen kinerja (Performance Assessment), asesmen informal (informal assessment), observasi (Observation), penggunaan pertanyaan (Questioning), Presentasi (Presentation), diskusi (Discusions), Projek (Project), investigasi atau penyelidikan (Investigation), Portofolio (Portofolio), Jurnal (Journal), Wawancara (Interview), Konferensi, dan Evaluasi diri oleh siswa (Self Evaluation).
Menurut Glencoe/McGrow-Hill dalam mba-uus.blogspot.com (2009) asesmen alternatif adalah asesmen yang lain dari lazimnya. Bentuk-bentuk asesmen alternatif antara lain asesmen kinerja (performance), observasi dan kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, portofolio dan jurnal, wawancara dan konferensi, dan asesmen diri sendiri. Contoh asesmen alternatif antara lain mencakup pertanyaan terbuka, pameran, demonstrasi, eksperimen, hands-on, penciptaan produk baru, kinerja, simulasi komputer dan portofolio Dalam hal ini dijelaskan bahwa asesmen alternatif mendorong siswa menguasai bukan hanya kecakapan-kecakapan dasar. Namun kenyataan banyak guru yang masih menggunakan asesmen tradisional daripada asesmen alternatif. Alasannya, pengkonstrukannya sulit dan waktu penskorannya juga memakan waktu yang cukup lama, walaupun timbulnya alasan yang demikian, asesmen alternatif harus ditegakkan. Selanjutnya akan dibahas satu persatu tentang pengertian penilaian dan macam-macam bentuk penilaian alternative berdasarkan alat penilaian.

  1. Pengertian Penilaian
Dalam buku pedoman penilaian kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994: 3 dalam Mulyana E.H, 2005), dikemukakan bahwa: "Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa". Sedangkan menurut Nana Sudjana dalam Mulyana E.H (2005), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu konteks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu "Judgment".
Penilaian tidak sama dengan pengukuran, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, karena kedua kegiatan tersebut saling berhubungan erat. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu. Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang di-dasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas
(Mulyana E.H, 2005).
Dari hasil pengukuran akan diperoleh skor yang menggambarkan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Lebih lanjut, berikut adalah penjelasan dari buku Penilaian Kelas pada Kurikulum 2004 tentang beberapa istilah yang sering terkait dengan penilaian. "Banyak orang mencampuradukan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda (Mulyana E.H, 2005).
Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru (Mulyana E.H, 2005).
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau keterca-paian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa (Mulyana E.H, 2005).
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas (Mulyana E.H, 2005).
Pembelajaran Sains memiliki tiga dimensi sasaran pembelajaran, yaitu dimensi proses, produk dan sikap yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan diabaikan dalam proses belajar mengajar Sains Moh. Amin dalam Nina_Nuriliyanti.blogspot.com (2005). Target pembelajaran Sains ini selain mengembangkan aspek kognisi juga meningkatkan ket-erampilan proses, sikap, kreativitas dan kemampuan aplikasi konsep. Mengingat antara belajar dan penilaian mempunyai hubungan yang erat, maka agar siswa terdorong untuk mengembangkan daya kreasi dan keterampilan berfikirnya hendaknya penilaian yang dilakukan tidak hanya ditujukan pada aspek penguasaan konsep saja. Namun perlu dilengkapi dengan penilaian terhadap proses belajar siswa atau aktivitas siswa, karya siswa, dan sikap siswa. Instrumen penilaian yang dapat digunakan untuk menilai kinerja siswa tersebut adalah dengan menggunakan penilaian berbasis asesmen (Assessment-based Evaluation).
Penilaian berbasis asesmen menuntut tertampilkannya kompetensi dan kreativitas serta inisiatif yang lebih luas dari diri siswa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Niddhi Khattri dkk dalam Mulyana E.H, (2005), bahwa penilaian terhadap berbagai aspek kinerja siswa memiliki pengaruh positif di kelas, karena melengkapi guru dengan acuan pedagogis yang membantu mengembangkan teknik instruksional yang efektif. Selain itu penilaian juga menyediakan informasi secara komprehensif mengenai kemajuan belajar siswa termasuk kekuatan dan kelemahannya. Mengingat begitu besarnya manfaat dan peranan penilaian berbasis asesmen terhadap kinerja siswa serta proses pembelajarannya, maka guru sebagai pengelola utama kegiatan pembelajaran diharapkan mampu memahami, merencanakan sekaligus melaksanakan jenis-jenis penilaian berbasis asesmen.

  1. Macam-macam Bentuk Penilaian dalam Asesmen Alternatif Berdasarkan Alat Penilaian
Menurut Mertler, dalam Classroom Assessment: A Practical Guide for Educators dalam Muhikllaten (2010), bentuk penilaian berdasarkan alat penilaian dalam asesmen alternative berupa asesmen kinerja (Performance Assessment), asesmen informal (informal assessment), observasi (Observation), penggunaan pertanyaan (Questioning), Presentasi (Presentation), diskusi (Discusions), Projek (Project) , investigasi atau penyelidikan (Investigation), Portofolio (Portofolio), Jurnal (Journal), Wawancara (Interview), Konferensi, dan Evaluasi diri oleh siswa (Self Evaluation).
  1. Asesmen Informal (Informal Assessment)
Asesmen informal adalah asesmen yang dilakukan secara spontan atau tidak direncanakan dan ketika asesmen ini dilakukan, peserta didik tidak menyadari bahwa mereka sedang dinilai dengan kata lain asesmen informal dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Ada dua jenis strategi yang digunakan dalam asesmen informal ini yaitu observasi guru (teacher observations) dan pertanyaan dari guru (teacher questions) (Muhiklaten, 2010).

  1. Observasi guru (teacher observations)
Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Salah satu contohnya dengan format buku catatan harian. selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu (Muhiklaten, 2010).

  1. Pertanyaan langsung (teacher questions)
Guru juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Peningkatan Ketertiban". Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik (Muhiklaten,2010).
Adapun kelebihan dari asesmen informal dalam Muhiklaten,(2010) antara lain:
  1. Pendidik dapat melakukan pengasesan secara terus-menerus, mulai dari awal sampai akhir pembelajaran.
  2. Dalam melakukan pengamatan untuk pengasesan berjalan secara alami atau spontan sesuai dengan kondisi, tanpa ada perencanaan sebelumnya.
  3. Bentuk pengasesan bisa bervariasi sesuai dengan kondisi kelas.
Kelemahan dari asesmen informal antara lain :
  1. Dalam asesmen informal dibutuhkan penarikan kesimpulan dari catatan sehari-hari yang telah terkumpul.
  2. Asesmen ini seringkali terlupakan oleh para pendidik karena dilakukan secara spontan dan terus-menerus.
  3. Terkadang pendidik tidak menyediakan cukup waktu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, jadi disini siswa dituntut untuk secara spontan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru (Muhiklaten,2010).

  1. Asesmen Unjuk Kerja atau Asesmen Kinerja (Performance Assessment)
Asesmen kinerja disebut juga dengan asesmen perbuatan (unjuk kerja). Asesmen kinerja dilakukan untuk menilai tugas-tugas yang dilakukan oleh peserta didik, sehingga guru dapat memiliki informasi yang lengkap tentang peserta didik. Menurut Hibbard dalam Muhiklaten (2010) tugas-tugas kinerja menghendaki:
  1. Penerapan konsep-konsep dan informasi penunjang penting lainnya
  2. Budaya kerja yang penting bagi studi atau kerja ilmiah
  3. Literasi sains.
Asesmen kinerja (Performance Assessment) pada dasarnya adalah asesmen autentik, karena dalam asesmen ini peserta didik dituntut untuk mendemonstrasikan inkuiri ilmiah mereka, melakukan penalaran dan keterampilan dalam menyelesaikan berbagai tugas menarik dan menantang dalam konteks kehidupan nyata (NSTA, 2002). Asesmen unjuk kerja merupakan proses asesmen yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Asesmen ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti, praktikum, praktek sholat, praktek olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi dll. Asesmen unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
  1. Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.
  2. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan diases dalam kinerja tersebut.
  3. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
  4. Mengupayakan kemampuan yang akan diases tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.
  5. Kemampuan yang akan diases diurutkan berdasarkan urutan pengamatan.



Asesmen kinerja ini memiliki karakteristik yaitu sebagai berikut:
  1. Membolehkan peserta didik untuk menunjukkan secara langsung kinerja atau kemampuannya
  2. Membutuhkan beberapa prosedur asesmen subjektif (misalnya dengan menggunakan skala rata-rata (rating scales), daftar cek (checklist) atau rubrik (rubrics)
  3. Ada kesempatan yang besar untuk mengembangkan asesmen kinerja ini dalam proses pembelajaran
Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat penilaian kinerja yang baik antara lain:
  1. Mengidentifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir yang terbaik.
  2. Menuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik.
  3. Mengusahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama peserta didik melaksanakan tugas.
  4. Mendefinisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan peserta didik yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan.
  5. Mengurutkan kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati
  6. Jika ada, memeriksa kembali dan membandingkan dengan kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.
Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengases kemampuan lompat jauh peserta didik misalnya dilakukan pengamatan atau observasi yang beragam, seperti: teknik mengambil awalan, teknik tumpuan, sikap/posisi tubuh saat di udara, teknik mendarat. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat ukur atau instrumen berikut:
  1. Daftar Cek (Check-list)
Asesmen unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-tidak). Asesmen unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh pengases. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar.
  1. Skala Penilaian (Rating Scale)
Asesmen unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan pengases memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum dimana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten.
Pada alat penyekoran berupa skala penilaian ini terdapat jenis lain yaitu berupa rubrik (rubrics). Heidi Goodrich Andrade dalam Muhiklaten (2010), mendefinisikan rubrik sebagai suatu alat penskoran yang terdiri dari daftar seperangkat kriteria atau apa yang harus dihitung. American Association for Advacement of Science dalam Muhiklaten (2010), mendefinisikan rubric adalah suatu petunjuk penskoran yang dapatmembedakan dalam hal skala yang diartikulasikan, di antara sekelompok perilak-perilaku yang sederhana atau kejadian-kejadian yang telah terjadi yang direspons pada saat itu juga. Jadi, rubrik adalah suatu set kriteria yang digunakan untuk menyekor atau menempatkan posisi siswa dapat pula diartikan sebagai suatu pedoman penskoran yang digunakan untuk menentukan tingkat kemahiran (proficiency) siswa dalam mengerjakan tugas. Rubrik penyekoran mendeskripsikan tingkat kinerja yang diharapkan dicapai siswa secara relatif. Deskripsi kinerja ini dapat membantu evaluator untuk mencari karakteristik kinerja siswa. Ada dua jenis rubrik yaitu analytic rubric dan holistic rubric (Muhiklaten, 2010).
Asesmen kinerja memiliki kelebihan dan kekurangan dalam Muhiklaten, (2010). Adapun kelebihan dari asesmen kinerja adalah sebagai berikut:
  1. Dapat mengetahui hasil belajar yang kompleks dan keterampilan-keterampilan yang tidak dapat dievaluasi dengan tes tradisional (paper and pencil test).
  2. Menyajikan suatu evaluasi yang lebih hakiki, langsung dan lengkap dari beberapa tipe keterampilan mengungkapkan alasan, keterampilan lisan dan keterampilan fisik.
  3. Menyajikan motivasi belajar yang tinggi bagi peserta didik dengan tujuan-tujuan yang jelas dan membuat pembelajaran lebih berarti.
  4. Mendorong aplikasi pembelajaran pada situasi kehidupan yang nyata.
  5. Dapat dijadikan informasi sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan dalam pembelajaran selanjutnya.
Adapun kelemahan asesmen kinerja yaitu sebagai berikut:
  1. Membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus dipertimbangkan dalam penggunaannya.
  2. Asesmen dan penyekoran kinerja subjektif, memberatkan dan secara khusus memiliki reliabilitas yang rendah.
  3. Frekuensi melakukan evaluasi secara individual harus lebih daripada dalam kelompok.

  1. Asesmen Portofolio (Portofolio Assessment)
Portofolio merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “portfolio”yang berarti kumpulan berkas atau arsip yang disimpan dalam bentuk jilidan seperti map. Menurut Basuki dalam Muhiklaten (2010), dalam kaitan dengan penilaian, portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan hasil karya seseorang baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk kaset video atau video. Namun portofolio tidak kumpulan karya seseorang. Portofolio perlu ditata sesuai dengan tujuan penilaian. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Dalam asesmen portofolio guru berperan sebagai fasilitator. Siswa lebih banyak dituntut aktivitasnya sehingga menuntut kemandirian yang merupakan tanggung jawab siswa. Oleh karena sebagai fasilitator maka guru harus mendorong tanggung jawab tersebut.
Sebagaimana telah dikemukakan asesmen portofolio adalah asesmen yang terdiri dari kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematik yang menunjukkan dan membuktikan upaya belajar, hasil belajar, proses belajar dan kemajuan (progress) yang dilakukan siswa dalam jangka waktu tertentu. Koleksi atau kumpulan hasil karya peserta didik menuntut partisipasi penuh peserta didik untuk turut menentukan kriteria dan pemilihan bahan yang akan dimasukan dalam portofolio
(Muhiklaten, 2010).
Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, misalnya berupa rekaman perkembangan belajar dan psikososial anak (developmental), catatan prestasi khusus yang dicapai siswa (showcase), catatan menyeluruh kegiatan belajar siswa dari awal sampai akhir (comprehensive), atau kumpulan tentang kompetensi yang telah dikuasai anak secara kumulatif (exit), karangan, puisi, surat, dan lain-lain. Harus dibedakan pengertian antara portofolio sebagai koleksi hasil karya yang ditempatkan dalam satu folder, dengan portofolio sebagai model asesmen untuk memantau perkembangan dan meningkatkan kinerja peserta didik dalam pendidikan persekolahan yang biasa disebut dengan asesmen portofolio (Muhiklaten, 2010).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan asesmen portofolio di sekolah dalam Muhiklaten (2010), antara lain:
  1. Portofolio hendaknya memiliki kriteria penilaian yang jelas.
  2. Informasi atau hasil karya yang didokumentasikan dapat berasal dari semua orang yang mengetahui peserta didik secara baik, seperti guru, rekan sesama peserta didik, guru dalam mata pelajaran lain.
  3. Portofolio dapat terdiri dari berbagai bentuk informasi, seperti karangan, hasil lukisan, skor tes, foto hasil karya, dan lain-lain.
  4. Kualitas portofolio harus senantiasa ditingkatkan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil karya yang memenuhi kriteria.
  5. Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang sangat berbeda dengan mata pelajaran lainnya.
  6. Portofolio harus terbuka bagi orang-orang yang secra langsung berkepentingan dengan hasil karya, seperti guru, sekolah, orang tua peserta didik, dan peserta didik itu sendiri.
Asesmen portofolio jika digunakan di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.
  2. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya.
  3. Menentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.
  4. Mengumpulkan dan menyimpan karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah.
  5. Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
  6. Menentukan kriteria pengasesan sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik.
  7. Meminta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan.
  8. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki.
  9. Bila perlu, menjadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio.

  • Jenis-jenis Portofolio
  1. Portofolio Proses
Portofolio jenis ini berisi seluruh pekerjaan siswa dalam bidang tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. Portofolio jenis ini berisi tahapan pengalaman siswa dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran. Portofolio jenis ini dapat menggambarkan keseluruhan proses dan perkembangan siswa, kesulitan yang dialami siswa, tahapan pengalaman yang dialami siswa, serta kemampuan siswa mencapai suatu tujuan pembelajaran (Muhiklaten, 2010).
b. Portofolio Pameran
Portofolio jenis ini berisi hasil terbaik dari karya siswa yang akan dipamerkan kepada kepala sekolah, orangtua maupun masyarakat. Portofolio jenis ini berfungsi sebagai etalase yang memamerkan barang dagangan tertentu. Portofolio jenis ini cenderung berupa produk akhir. Selain itu, fungsi dari portofolio jenis ini adalah memberikan penghargaan dan meningkatkan harga diri siswa melalui publikasi karya-karyanya (Muhiklaten, 2010).
c. Portofolio Refleksi
Portofolio jenis ini memfokuskan pada refleksi proses dan hasil belajar yang telah dilakukan. Portofolio jenis ini berisi kumpulan proses dan hasil pekerjaan siswa dalam bidang tertentu dalam kurun waktu tertentu, penilaian diri oleh siswa terhadap karya yang dihasilkan, penilaian guru terhadap karya siswa, dan simpulan tentang kualitas dan hasil. Portofolio ini digunakan oleh guru sebagai alat penilaian dan juga untuk membantu siswa merefleksikan apa yang telah mereka pelajari (Muhiklaten,2010).
Adapun kelebihan dari Asesmen Portofolio antara lain:
  1. Kemajuan belajar peserta didik setiap saat dapat dilihat secara jelas.
  2. Fokus pada hasil kerja peserta didik yang terbaik memberikan suatu pengaruh yang positif bagi pembelajaran
  3. Pembandingan hasil kerja peserta didik masa lalu dengan sekarang memberikan motivasi yang besar daripada membandingkan antar hasil kerja peserta didik yang satu dengan yang lainnya.
  4. Keterampilan-keterampilan asesmen pribadi ditingkatkan melalui seleksi contoh-contoh hasil kerja yang terbaik dan memberikan penilaian pada pilihan.
  5. Menyajikan penilaian terhadap perbedaan individu
  6. Menyajikan komunikasi yang jelas dalam kemajuan belajar pada peserta didik, orang tua dan lainnya.
Adapun kekurangan dari asesmen portofolio adalah :
  1. Tidak boleh digunakan sebagai arti yang sesungguhnya dari penilaian.
  2. Membutuhkan banyak waktu.
  3. Kesubjektivitasan seringkali menimbulkan masalah pada validitas dan reabilitas (Muhiklaten,2010).
  1. Jurnal
Basuki dalam Muhiklaten, (2010) menyatakan bahwa “jurnal merupakan catatan harian yang digunakan siswa untuk menulis respon, komentar, apa yang dipikirkan siswa tentang pembeljarannya yang dialami, perasaan personal siswa terhadap pembelajaran atau refleksi siswa terhadap keseluruhan proses pembelajaran”.
Jurnal dapat digunakan untuk mendapatkan informasi tentang persepsi interpretasi, harapan dan kesulitannya. Jurnal memberikan memberikan informasi tentang minat, respon, dan pemahaman siswa. Aspek yang ditulis perlu dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan agar penulisan jurnal dapat terfokus dan mudah dianalisis (Muhiklaten, 2010).

  1. Wawancara
Menurut Sudijono dalam Muhiklaten (2010) yang dimaksud wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka dan dengan arah tujuan yang telah ditentukan. Sebagai alat penilaian, wawancara dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Kelebihan wawancara ialah bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapakan jawaban secara lebih bebas dan mendalam. Melalui wawancara data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi.
Ada dua jenis wawancara yaitu wawancara berstruktur dan wawancara bebas.
  1. wawancara berstruktur
Dalam wawancara berstruktur kemungkinan jawaban telah disiapkan sehingga siswa tinggal mengkategorikannya kepada alternatif jawaban yang dibuat. Keuntungannya ialah mudah diolah dan dianalisis untuk dibuat kesimpulan.
  1. wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, jawaban tidak perlu perlu disiapkan sehingga siswa bebas mengungkapkan pendapatnya. Keuntungannya adalah informasi lebih padat dan lengkap sekalipun kita harus bekerja keras dalam menganalisisnya sebab jawabannya beraneka ragam.
Menurut Sudjana dalam Muhiklaten (2010), Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam melaksanakan wawancara yaitu tahap awal pelaksanaan wawancara, penggunaan pertanyaan, serta pencatatan hasil wawancara.
Pada tahap awal wawancara bertujuan untuk mengondisikan situasi wawancara. Setelah kondisi awal cukup baik, barulah diajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan tujuan wawancara. Pertanyaan diajukan secara bertahap dan sistematis. Kemudian pada tahap terakhir, adalah mencatat hasil wawancara. Hasil wawancara sebaiknya dicatat pada saat itu juga agar tidak lupa. Mencatat hasil wawancara berstruktur cukup mudah sebab tinggal memberikan tanda pada alternative jawaban. Sedangkan pada wawancara terbuka kita perlu mencatat pokok-pokok isi jawaban siswa pada lembar tersendiri (Muhiklaten, 2010).

  1. Observasi
Observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Sudjana dalam Muhiklaten (2010) mengungkapkan observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam simulasidan penggunaan alat peraga pada waktu mengajar.
Ada tiga jenis observasi, yakni observasi langsung, observasi dengan alat dan observasi partisipasi.
  1. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi ynga sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
  2. Observasi tidak langsung adalah observasi yang dilakukan dengan menggunakan alat seperti mikroskop untuk mengamati bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit.
  3. Observasi partisipasi berarti pengamat harus melihat diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.

Kelebihan dari Observasi:
  1. Data observasi itu diperoleh secara langsung di lapangan yakni dengan jalan melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik di dalam melakukan sesuatu, sehingga data tersebut lebih bersifat obyektif.
  2. Data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu peserta didik.
Kelemahan dari observasi:
  1. Observasi sebagai salah satu alat evaluasi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baikdan benar oleh pengajar.
  2. Kepribadian dari observer atau evaluator juga sering mewarnai atau menyelinap masuk ke dalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-prasangka yang mungkin melekat pada diri observer dapat mengakibatkan sulit dipisahkannya secara tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
  3. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi umumnya baru dapat mengungkap “kulit luar”nya saja.

  1. Proyek dan Investigasi
Penelitian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam episode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengelolaan dan penyajian data. Sebenarnya kegiatan seperti ini dapat dikategorikan sebagai proyek dan investigasi yang dilakukan. Dalam melakukan kegiatan ini dapat melibatkan siswa secara individu atau kelompok kecil dua sampai empat anak dalam satu kelompok, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas dua sampai tiga minggu.
Kegiatan proyek adalah cara yang amat baik untuk melibatkan siswa dalam pemecahan masalah karena bersifat sangat ilmiah apabila ditunjang dengan kegiatan yang berhubungan dengan dunia nyata. Proyek dapat melibatkan siswa secara aktif dan menemukan situasi baru yang dapat mendorong siswa menemukan suatu masalah sehingga dapat menentukan mereka merumuskan hipotesis yag membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.
Proyek dinilai pada berbagai konteks untuk berbagai tujuan, dan penilaian formatif dan diagnostik berupa tugas bersama hingga penilaian sumatif berupa penilaian individu. Melalui proyek juga dapat dilakukan penilaian keterampilan tertentu maupun pengetahuan di dalam konteks yang memerlukan aplikasi dari keterampilan yang lebih umum (Proses, proyek, dan produk akhir). Adapun manfaat dari kerja proyek adalah untuk menilai kemampuan siswa pada waktu melakukan kerja individu maupun kerja kelompok. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu :
  1. Kemampuan pengelolaan, kemampuan peserta didik alam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
  2. Relavansi, kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
  3. Keaslian, proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

  1. Evaluas Diri Siswa
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Tujuan utama dari penilaian diri adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Peran peninaian diri menjadi penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke siswa yang berdasarkan pada konsep belajar mandiri. Ada beberapa jenis penilaian diri, diantaranya :
a. Penilaian langsung dan spesifik;
b. Penilaian tidak langsung dan holistik;
c. Penilaian sosio-efektif.
Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadain seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain :
a. Dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik,
b. Peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya,
c. Dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk jujur.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif, untuk itu penilaian diri oleh beberapa peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penlaian diri;
  2. Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai;
  3. Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
  4. Merumuskan format penilaian, berupa pedoman penskroran, daftar tanda cek, atau skala penilaian;
  5. Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri;
  6. Guru mengkaji hasil penilaian;
  7. Lakukan tindakan lanjutan.
Dalam penilaian diri terdapat tiga proses regulasi diri yaitu :
  1. Siswa melakukan observasi sendii yang berfokus pada aspek kinerja yang relevan dengan tujuan dan standar keberhasilan.
  2. Siswa mempertimbangkan sendiri dan menentukan tujuan khusus dan umum yang akan dicapai.
  3. Siswa melakukan reaksi diri, menafsirkan tingkat pencapaian tujuan, dan menghayati keberhasilan/kemajuan sebagai bahan refleksi diri.

  1. Hubungan antara Asesmen Alternatif dengan Asesmen Tradisional
Sebagai dasar utama dalam mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan, beberapa tahun lalu guru selalu melakukan paper and pencil test (tes tertulis) pada peserta didiknya. Oleh karena itu, guru menggunakan asesmen tradisional. Namun, tes tertulis (paper and pencil test) yang sudah biasa dilakukan oleh guru ini tidak mampu mengukur kemampuan hasil belaja peserta didik secara keseluruhan dengan kata lain tes ini hanya mampu mengukur kemampuan kognitif peserta didik saja sehingga tidak dapat menilai secara holistik atau menyeluruh.
Seiring dengan adanya perubahan kurikulum di Indonesia tentu akan mengubah substansi materi yang harus dipelajari oleh peserta didik karena format kurikulum yang berkembang menyesuaikan tuntutan perkembangan zaman dan juga pergeseran paradigma. Oleh karena semakin kompleksnya materi yang diberikan pada peserta didik, maka apabila guru tetap menggunakan acuan asesmen tradisional (dengan paper and pencil test) sebagai dasar utama membuat keputusan maka hasilnya kurang dapat menilai secara holistik. Sehingga diperlukan bentuk asesmen lain yang disebut asesmen alternatif.
Dalam hal ini berarti bahwa adanya asesmen alternatif merupakan perkembangan baru dari asesmen tradisional. Dengan kata lain, asesmen alternatif tidak menghilangkan peran dari asesmen tradisional tetapi sebagai suplemen atau pelengkap sehingga kemampuan hasil belajar peserta didik dapat dideskripsikan secara holistik.
Dengan adanya pengetahuan tentang penilaian alternatif yang telah penulis susun ini diharapkan bisa memperbaiki sistem penilaian yang ada di Indonesia sehingga pendidikan yang dicanangkan bisa memenuhi standar kurikulum yang telah ada. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP yang lebih menitikberatkan pada pengembangan kompetensi anak didik, mulai dari learning to know sampai dengan learning to live together, seperti yang telah diungkapkan oleh UNESCO. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi pembelajaran yang terbatas pada penguasaan konsep saja tapi unjuk kerja adalah point utamanya. Namun demikian Asesmen alternative merupakan perkembangan baru dari asesmen tradisional. Dengan kata lain asesmen alternative tidak menghilangkan peran dari asesmen tradisional.












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
  1. Asesmen alternatif diartikan sebagai pemanfaatan pendekatan non-tradisional untuk mengases kinerja atau hasil belajar peserta didik. Ada kalanya asesmen alternatif juga dapat disebut dengan asesmen otentik atau asesmen kinerja.
  2. Menurut Mertler, dalam Classroom Assessment: A Practical Guide for Educators, bentuk penilaian berdasarkan alat penilaian dalam asesmen alternative berupa asesmen kinerja (Performance Assessment), asesmen informal (informal assessment), observasi (Observation), penggunaan pertanyaan (Questioning), Presentasi (Presentation), diskusi (Discusions), Projek (Project) , investigasi atau penyelidikan (Investigation), Portofolio (Portofolio), Jurnal (Journal), Wawancara (Interview), Konferensi, dan Evaluasi diri oleh siswa (Self Evaluation).
  3. Dari masing-masing betuk penilaian terdapat kelebihan serta kekurangan yang dimiliki ataupun kendala-kendala dalam proses pelaksanaannya.
  4. Asesmen alternative merupakan perkembangan baru dari asesmen tradisional. Dengan kata lain asesmen alternative tidak menghilangkan peran dari asesmen tradisional.












DAFTAR RUJUKAN


Anonim. 2009. Asesmen Autentik. (Online) (http://mba-uus.blogspot.com/2009/10/asesmen-autentik.html)) diakses 06-11-2011.


Mulyana E.H. 2005. Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD. (Online) (http://re-searchengines.com/0405edi.html) diakses 06-11-2011.

Mulyana E.H. 2005. Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD. (Online) (http://nina-nurilinayati.blogspot.com/) diakses 06-11-2011.

Muhiklaten. 2010. Instrumen Non Tes. (Online) (http://muhiklaten.blogspot.com/2011/03/instrumen-non-tes.html) diakses 06-11-2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar